Selasa, 22 November 2011

Renungan Di Kesunyian Malam

        Renungan penuh hikmah, renungan hidup penuh manfaat, renungan hati penuh makna, renungan malam penuh tujuan, renungan harian penuh arti, renungan cinta menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang, renungan Islam penuh berkah, karena renungan adalah sarana yang tepat untuk introspeksi diri, karena renungan bisa sebagai motivasi hidup, dan untuk inilah aku tulisakan catatan renungan hidupku sebagai pengingat diri. Di keheningan malam ini, saat bulan purnama menyinari bumi, aku merasa ingin sekali menuliskan sesuatu tentang catatan renunganku saat sepertiga malam ini. Semoga catatan renungan ini banyak membawa hikmah dan manfaat untuk diri sendiri, keluarga dan tak lupa untuk sahabat-sahabatku. Dan sebagai pedoman hidupku bahwa renungan adalah awal dari petualangan dan perjalanan hidup, bukan sebagai akhir dari usaha dan ikhtiar kita.

Setiap orang akan berbeda dalam menyikapi berbagai gejolak hidupnya. Menyikapi hidup dan kehidupan terkadang gampang-gampang susah. Gampang untuk bicara, susah untuk dijalankan. Adakalanya kita bisa berpikiran jernih sehingga semuanya nampak indah, dan adakalanya hati kita dalam keadaan gelap sehingga keluh kesah pun tak dapat dihindari. Keluh kesah dan ketenangan silih berganti menyelimuti perjalanan hidup kita. Dan semuanya sudah menjadi hukum Allah bahwa kehidupan ini memang selalu berputar dan berpasang-pasangan, yang menjadikannya sebagai ujian, pelajaran, cobaan dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.
Manusia dengan perbedaan cara pandangnya, selalu menanti kehadiran masa-masa yang tenang sehingga bisa menjadikannya sebagai sebuah kebahagiaan dan ketentraman yang dalam. Masa-masa yang tenang ini akan sangat berdampak pada penjernihan akal dan pikiran manusia. Tetapi tidak sedikit pula manusia yang dapat merasakan ketenangan hati dengan tidak terpengaruh tempat dan waktu. Bagi mereka, suasana ramai maupun sepi, malam ataupun siang, semuanya sama karena sudah terpancar sinar ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Sungguh beruntung orang yang memiliki tipe seperti itu.

Malam, terutama di sepertiga malam terakhirnya adalah waktu yang sangat dinanti….pada waktu itulah ALLOH SWT turun ke langit-langit bumi…waktu menjelang fajar itu ALLOH turun ke langit bumi sampai subuh….untuk menyaksikan hambaNYA yang shalat di waktu itu dan untuk mendengar hambaNYA yang berdo’a kepadaNYA…. ALLOH SWT akan mengabulkan do’a hamba-hambaNYA pada saat itu….ah sungguh sangat sayang ALLAH SWT pada hamba-hambaNYA….tapi jarang hambaNYA yang memanfaatkan saat-saat itu….

Malam juga mengajarkan kita untuk istirahat…agar tubuh kita kembali bugar….agar keletihan kita terobati….untuk bisa menenangkan pikiran dari semua permasalahan yang kita hadapi….agar saat fajar terbit kita punya semangat untuk bangkit….

Mengapa ALLAH SWT mengajarkan malam menjadi waktu untuk istirahat dan berdo’a penuh harap kepadaNYA….

Sungguh kalau kita mau menyadari bahwa malam adalah solusi dari ujian hidup kita…bahwa malam mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi permasalahan dalam hidup kita….
Istirahat malam untuk menghilangkan kejenuhan, menenangkan pikiran, dan mengobati kelelahan adalah bentuk pengajaran ALLOH SWT agar kita sabar…karena semua permasalahan hidup untuk mengatasinya perlu kesabaran dan ketenangan….bukan ketergesa-gesaan….sebagaimana ALLAH SWT sering katakan dalam firmanNYA sabar adalah salah satu penolong kita…..adanya malam yang akan diakhiri dengan terbitnya matahari dari timur…juga mengajarkan kita bahwa sabar dengan tetap menggantungkan harapan dan terus berbuat yang terbaik akan mengantarkan kita pada solusi terhadap permasalahan hidup kita….sabar dengan meyakini bahwa bersama kesulitan ada kemudahan….mengantarkan kita meraih kesuksesan…itulah yang diajarkan malam….bahwa gelapnya malam akan segera berakhir dengan terbitnya matahari….begitu juga dengan himpitan hidup akan segera berakhir….ketika kita mampu sabar dan ikhlas menerimanya…sambil terus berharap bahwa semua himpitan akan berakhir….dan terus berikhtiar berbuat yang terbaik untuk meraih semua…impian-impian kita…..

Jadi benar-lah apa yang dikatakan ALLOH SWT….jadikan-lah sabar dan shalat sebagai penolongmu…itulah yang diajarkan malam pada kita….senantiasa sabar penuh harap akan terbitnya fajar kesuksesan dengan tetap berusaha sebaik mungkin sambil tak lupa mengadahkan tangan meminta kepada Pemilik Alam Semesta ALLOH SWT….wallahu’alam
Baca Selengkapnya....

Sabtu, 01 Oktober 2011

Pasti Ada Jalan

Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh
Bertahan terus berharap
Allah selalu di sisimu

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan

.................................dst

 Lirik di atas adalah cuplikan lagu "Insya Alloh" dari Maher Zain
   
          Ketika permasalahan hidup membelit dan kebingungan serta kegalauan mendera rasa hati. Ketika gelisah jiwa menghempas-hempas. Ketika semua pintu solusi terlihat buntu. Dan kepala serasa hendak meledak: tak mengerti apalagi yang mesti dilakukan. Tak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh. Hingga dunia terasa begitu sempit dan menyesakkan.

Ketika kepedihan menyesakkan hati. Ketika kabut kesedihan meruyak, menelusup ke dalam sanubari. Atas musibah-musibah yang beruntun mendera diri. Apalagi yang dapat dilakukan untuk meringankan beban perasaan? Apalagi yang dapat dikerjakan untuk melepas kekecewaan?

Ketika kesalahan terlanjur dilakukan. Ketika beban dosa terasa menghimpit badan. Ketika rasa bersalah mengalir ke seluruh pembuluh darah. Ketika penyesalan menenggelamkan diri dalam air mata kesedihan. Apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban jiwa ini?

Jawabannya adalah Ketaqwaan kepada Alloh SWT dan yakinlah bahwa sesuatu yang buruk yang telah menimpa kita adalah yang terbaik untuk kita di Mata Alloh SWT dan menunjukkan kecintaan Alloh SWT kepada kita sebagai makhluqNya.

Alloh berfirman, "Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar,dan Alloh akan memberikan Rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka."

Rasulullah bersabda, "Ikutilah kesalahan dengan amal baik, niscaya ia akan menghapus dosa-dosamu."

Ibnul Jauzi pernah berkata, "aku pernah dihimpit permasalahan yang membuatku gelisah dan galau berlarut-larut. Kupikirkan dan kucari solusi dengan segala cara dan usaha. Tapi aku tidak menemukan satu jalan pun untuk keluar darinya, hingga kutemukan ayat itu. Maka kusadari, bahwa jalan satu-satunya keluar dari segala kegalauan adalah ketaqwaan. Dan ketika jalan ketaqwaan itu kutempuh, tiba-tiba Alloh sudah lebih dulu menurunkan penyelesaian. Maha suci Alloh".

Sungguh kita semua pasti pernah merasakan kebuntuan hati. Seolah semua jalan keluar sudah tertutup rapat. Maka saat itulah kita baru menyadari betapa lemahnya kita dan betapa besarnya kekuasaan Alloh SWT.

Menyadari kelemahan bukan berarti pasrah sebelum ikhtiar. Bukan pula pembenaran atas segala kesalahan dan kecerobohan. Namun sebagai bentuk bersandarnya hati pada Dzat yang Maha Besar yaitu Alloh SWT, manakala semua langkah ikhtiar untuk keluar dari permasalahan sudah dicoba.




 
Baca Selengkapnya....

Hati Yang Luas

           

Segenggam Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan wajahnya kusam. Keadaan tubuhnya tak karuan. Ia seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan hatinya. Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.
Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Begitu tamunya selesai bertutur, ia lalu mengambil segenggam garam dan memintanya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak Tua itu.
“Pahit…., pahit sekali,” jawab anak muda itu sambil meludah ke samping.
Pak Tua tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat membasahi wajah anak muda itu.


“Sekarang, coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!” ujar Pak Tua kemudian.
Anak muda itu menuruti apa yang diminta Pak Tua. Ia segera meminum beberapa teguk air telaga. Begitu tamunya selesai mereguk air, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”
“Segar!” sahut anak muda itu.
“Apakah engkau bisa merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi.
“Tidak,” jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
“Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu kembali menambahkan nasihatnya, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. “
Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya untuk meminta nasihat.
Baca Selengkapnya....

Rabu, 28 September 2011

JANGANLAH ENGKAU BERSEDIH

          Sebagai manusia, kita sudah pasti memiliki kesalahan. Itu sudah merupakan kodrat manusia yang memang harus diterima dan sangat baik untuk dijadikan renungan. Ya, Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik untuk kehidupan kita. Namun siapakah yang menentukan hasil??...
Tentu hanya ALLOH SWT. Mungkin banyak orang yang jika melakukan kesalahan atau kekhilafan mereka menyesal akibat perbuatan mereka bahkan di beberapa kasus, ada yang melakukan penghilangan nyawa alias bunuh diri.

          Sebagai manusia yang diciptakan ALLOH SWT kita hanya bisa pasrah dalam artian menyerahkan semua kehidupan kita kepada ALLOH SWT. Karena Alloh lah yang mengatur segala alur kehidupan kita. Keyakinan kita tersebut lah yang dapat menyelamatkan kita dari rasa bersalah, ketakutan, dan lain-lain. Iman adalah kuncinya. Intinya adalah manusia tidak luput dari kesalahan, dan jangan jadikan kesalahan tersebut sebagai momok yang menakutkan bagi kita. Manusia terbaik bukan berarti manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, Melainkan manusia yang sadar akan kesalahan yang dia lakukan.
           Kadang kita memaki keadaan karena tidaklah sesuai dengan selera dan kehendak kita.Kadang kita menyalahkan Alloh atas sesuatu hal buruk yang menimpa kita.Padahal sesuatu yang buruk yang menimpa kita adalah yang terbaik di Mata Alloh SWT untuk kita.
Seperti ketika sepasang suami istri yang sedang berkonflik. Mereka akan dengan  mudah menyalahkan satu- sama lain. Si suami mungkin tidak menyenangi salah satu sifat istri, pun demikian halnya dengan sang istri. Rasanya hati sudah penuh sesak dengan amarah, kesedihan dan kesempitan. Ingin rasanya memaki, atau paling tidak mengeluarkan uneg- uneg yang ada. Namun sering kali kemauan itu masih tertahan dengan masih adanya iman
          Sejenak mari kita renungkan... Di dunia ini ada bermilyar manusia yang mungkin bisa menjadi pasangan kita. Namun, Alloh akhirnya mempertemukan kita dengan pasangan kita saat ini, dan bukan dengan yang lain. Pastilah semua itu bukan hanya karena kebetulan belaka. Ada skenario dan pelajaran takdir yang bisa sama- sama kita pelajari. Hal tersebut tidak lain adalah untuk menjadikan diri kita lebih baik dari pada sekarang ini.

Kekurangan yang dimiliki istri ataupun suami, adalah pelengkap bagi kelebihan yang lain. Namun sering kali batin manusia menyeru untuk melirik kelebihan manusia lain selain istri atau suami mereka. Hal itu karena mereka mungkin sejenak ingin meredakan diri dan mendamaikan hati atas sebuah kekesalan. Maka ada istilah, "Rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri".

Pernahkah kita membaca, padahal jika hati kita telah ikhlas menerima ketetapan Alloh, "Rumput sendiri" yang mungkin tidaklah lagi hijau, justru  yang telah berjasa "menghijaukan" kita. Betapa tidak, dari kekurangan pasangan kita, kita belajar lebih bijaksana, kita belajar sebuah pemakluman dan belajar sebuah kesabaran. Dan dari kelemahan diri kita sendiri, kitapun belajar selalu bersyukur,kita belajar sebuah perbaikan, kita belajar meminta maaf dan belajar menghindari kesombongan.

Dan Alloh lah yang paling tahu tentang kebutuhan kita, kebutuhan untuk menjadikan kita manusia lebih baik, kebutuhan untuk menjadikan kita sangat lebih baik dari pada hari ini.Dan kebijaksanaan Alloh tersebut hanya dapat dipahami oleh para jiwa- jiwa yang ikhlas dan sabar,hati- hati yang lembut dan selalu bersyukur serta para hamba yang mau belajar dan mempelajari hikmah kehidupan.


Cerita lain yang seringkali menghinggapi batin kita dengan kegelisahan adalah ketika kehidupan disudutkan pada sebuah kekurangan terutama dalam hal materi. Terkadang, karena hal itu pula, aturan halal dan haram pun menjadi sangat susah sekali untuk tetap digenggam erat. Tak jarang, segala cara kita lakukan demi sebuah kelebihan dan keluasan untuk memerdekakan hati yang sedih.
Saudaraku, percayalah kesempitan atau keluasan itu, bukan terletak dari seberapa banyak atau sedikit materi yang kita punya, tapi hanyalah masalah tentang penyikapan hati kita. Banyak dari saudara kita yang sekarang dalam keluasan rejeki, namun mereka pun masih gusar tentang bagaimana cara bahagia untuk sesuatu sangat simple. Berkumpul dengan keluarga misalnya. Mungkin mereka menilai bahwa kita yang biasa- biasa sekarang ini adalah lebih beruntung dan bahagia. Sadarkah kita jika saja saat ini kita diberi kelebihan dan keluasan dalam hal apapun oleh Nya, apakah masih akan ada waktu tersisa untuk sekedar menyapa Alloh sang Maha Rahman, apakah masih ada sejenak akses untuk mengingatNya seperti dalamnya kemohonan kita saat kita memanjatkan doa saat sempitnya kehidupan?... Sungguh Alloh lah pencipta kita, dan Dia lebih tahu detail pastinya tentang apapun dari kemampuan kita dan apapun kebutuhan kita melebihi diri kita sendiri.

Subhanalloh, dalam berbagai hal, yang negatif dalam pandangan kita sekalipun, ternyata disana tersimpan kasih sayang dari Sang Maha Mencintai dan Mengasihi.

Janganlah bersedih,berkeluh kesah,berputus asa atas apa yang telah menimpa kita dan jangan pernah sesali apa yang telah kita dapatkan atau yang telah lepas dari genggaman. Jika sebelumnya kita telah melakukan usaha yang terbaik, maka hasil akhir yang Alloh beri itulah, upah yang terbaik untuk kita.
Tidak semua keinginan di dunia ini terpenuhi atau dipenuhi secara sempurna oleh Alloh sang Maha Rahman. Semua tentu bukan berdasar tidak adanya kasih sayang dari Nya. Namun semua adalah pasti dan tentu saja yang terbaik untuk kita. Alloh yang memegang ukuran atas kita. Dan hal itu hanya dapat dipahami oleh batin yang percaya dan tetap percaya pada Alloh dalam keadaan apapun.
Sungguh, Alloh lah yang maha Penyayang atas hamba- hambaNya.

Dan Alloh lah yang paling tahu tentang kebutuhan kita, kebutuhan untuk menjadikan kita manusia lebih baik, kebutuhan untuk menjadikan kita sangat lebih baik dari pada hari ini.Dan kebijaksanaan Alloh tersebut hanya dapat dipahami oleh para jiwa- jiwa yang ikhlas dan sabar,hati- hati yang lembut dan selalu bersyukur serta para hamba yang mau belajar dan mempelajari hikmah kehidupan.
 
 Wallohu A'lamu bis showab
Baca Selengkapnya....